Sudah Bakar Budget Iklan Shopee, Tapi Tetap Sepi Closing. Stop Ulangi Ini

Sudah Bakar Budget Iklan Shopee, Tapi Tetap Sepi Closing. Stop Ulangi Ini

Orang tidak selalu menilai tokomu dari feed atau konten. Di marketplace, penilaian itu sering terjadi dalam 10 detik pertama saat calon pembeli membuka listing. Kamu bisa rajin jalanin Iklan Shopee, dapat klik, bahkan chat masuk. Tapi kalau “pintu” di halaman produk membuat orang ragu, ya berhenti di situ.

Yang terjadi belakangan ini sederhana dan bikin banyak UMKM pusing: iklan jalan, traffic naik, tapi order tidak ikut naik. Ini penting sekarang, karena basis pengguna internet Indonesia terus bertambah. APJII merilis pada 7 Februari 2024 bahwa pengguna internet Indonesia mencapai 221.563.479 jiwa, setara 79,5 persen dari populasi. Lalu pada 6 Agustus 2025, sejumlah media mengutip peluncuran survei APJII “Profil Internet Indonesia 2025” dengan penetrasi 80,66 persen dan sekitar 229 juta jiwa terkoneksi internet. Artinya, pasar makin ramai. Kompetisi makin rapat. Dan satu listing yang “kurang meyakinkan” bisa menghabiskan budget tanpa hasil.

Ada satu detail yang sering luput: di Shopee, iklan umumnya bekerja sebagai “penarik orang masuk”. Biaya iklan dipotong dari Ads Credit dan iklan berjalan mengikuti pengaturan yang kamu buat, termasuk ketika saldo cukup atau diatur auto top up. Traffic bisa kamu beli. Kepercayaan tidak bisa dibeli cepat. Bagian tengah artikel ini akan membongkar indikator paling gampang dibaca untuk tahu apakah masalahmu ada di targeting iklan, atau justru di halaman produk yang jadi tujuan klik.

Ini yang perlu dicermati sebelum kamu menyalahkan iklan

Pertama, pahami cara kerja dasarnya. Shopee Ads menggunakan sistem biaya per klik, jadi kamu membayar saat orang mengklik iklan, bukan saat iklan tayang. Kalau orang klik lalu batal, itu belum tentu “iklan jelek”. Bisa jadi iklannya sudah melakukan tugasnya: membawa orang yang relevan. Masalahnya ada setelah klik.

Kedua, masalah “nggak closing” sering muncul saat ekspektasi pembeli tidak ketemu kenyataan listing. Judul mengarah ke A, foto terlihat B, variasi ternyata C, ongkir terasa D. Di titik itu pembeli mundur, bahkan tanpa memberi sinyal apa pun.

Wajib Tahu:

  1. Judul produk Shopee punya batas panjang. Dokumen persyaratan listing Shopee mencantumkan nama produk maksimal 120 karakter dan ada aturan soal format serta larangan elemen yang mengganggu.

  2. Keyword di iklan bisa melebar kalau kamu memilih pencocokan yang luas. Di panduan Shopee Ads, ada konsep broad match dan exact match untuk keyword. Pemilihan ini berpengaruh pada relevansi traffic yang masuk.

  3. Klik tidak selalu berarti minat beli. Di panduan Shopee Ads juga dijelaskan bahwa sistem dapat mendeteksi klik tidak valid dan klik semacam itu tidak dibebankan biaya.

  4. Problem “klik banyak tapi batal” bukan cuma terjadi di marketplace. Riset kompilasi Baymard menunjukkan rata-rata cart abandonment sekitar 70,22 persen, dan salah satu alasan teratas adalah biaya ekstra yang terlalu tinggi (sekitar 39 persen responden dalam salah satu survei yang dirangkum).

Apa artinya untuk Indonesia? Dengan basis pengguna internet yang makin besar, calon pembeli makin terbiasa membandingkan. Mereka juga makin sensitif pada sinyal kepercayaan: detail produk, rating, variasi jelas, dan biaya total yang kebaca cepat. Satu celah kecil di listing bisa mengubah klik jadi “cuma lihat-lihat”.

Simulasi kasus: Iklan Shopee jalan, budget kecil, tapi order seret

Simulasi ini sengaja dibuat sederhana supaya kamu bisa menirunya. Anggap ada UMKM bernama “Dapur Rapi” jual tempat bumbu dan toples kaca. Mereka jalanin Iklan Shopee untuk 1 produk andalan.

Timeline singkatnya begini. Hari 1 sampai Hari 3: pasang iklan keyword dengan budget 30.000 rupiah per hari. Hasilnya: impresi naik, klik masuk. Tapi order tetap 0 sampai 1 per hari.

Metrik yang kelihatan “bagus” di permukaan: CTR lumayan, biaya per klik tidak meledak, dan ada beberapa add to cart.

Masalah mulai kebaca saat dibedah:

  • Keyword terlalu umum, banyak klik dari orang yang cari “toples murah” padahal produk premium.

  • Judul produk kepanjangan dan bagian depan justru berisi tagline, bukan jenis produk. Padahal batas nama produk maksimal 120 karakter.

  • Foto utama tidak menunjukkan ukuran. Di deskripsi, ukuran ada, tapi orang keburu ragu.

  • Tidak ada voucher kecil yang bikin orang merasa “sayang kalau dilepas”.

Di titik ini, iklan bukan musuh. Iklan hanya memaksa semua kelemahan listing jadi terlihat lebih cepat.

5 penyebab paling sering, plus cara beresin dengan budget kecil

Kita masuk ke inti. Ini lima penyebab yang paling sering bikin Iklan Shopee “jalan” tapi tidak menghasilkan closing, dan cara merapikannya tanpa perlu budget besar.

  1. Keyword tepat, tapi pencocokannya kebablasan
    Kalau kamu pakai broad match, iklan bisa tampil untuk variasi pencarian yang lebih luas. Ini berguna untuk eksplor, tapi berisiko mendatangkan orang yang niatnya beda. Panduan Shopee Ads membedakan broad match dan exact match untuk keyword.

    Cara beresin:

    • Pilih 3 sampai 8 keyword yang benar-benar menggambarkan produk.
    • Untuk produk yang sudah jelas targetnya, pindah sebagian keyword penting ke exact match dulu.
    • Sisihkan budget kecil untuk eksperimen broad match, tapi jangan campur semua di satu ad group.
  2. Judul dan “pintu depan” listing tidak bicara ke pencarian
    Di marketplace, judul adalah pintu pertama. Kalau judul tidak menyebut jenis produk dan spesifikasi inti sejak awal, pembeli bingung. Shopee punya aturan batas nama produk maksimal 120 karakter.

    Cara beresin (rumus cepat):

    • Nama Produk = Jenis + Bahan/Model + Ukuran/Isi + Varian + Kegunaan utama
    • Contoh (toples): “Toples Kaca 1.000 ml Tutup Kayu, Set 2 pcs, Anti Bocor”
    • Contoh (tempat bumbu): “Tempat Bumbu Kaca 120 ml, Set 6, Label, Rak Minimalis”
      Targetnya bukan puitis. Targetnya kebaca.
  3. Klik masuk, tapi biaya total bikin mundur
    Banyak orang batal bukan karena produknya jelek, tapi karena merasa biaya total “berubah” saat di keranjang. Ini fenomena umum di e-commerce. Baymard merangkum alasan cart abandonment, dan biaya ekstra yang terlalu tinggi termasuk alasan teratas dalam salah satu survei yang mereka kompilasi.

    Cara beresin:

    • Pastikan variasi, berat, dan opsi pengiriman tidak bikin ongkir melonjak tiba-tiba.
    • Uji bundling kecil. Misalnya beli 2 lebih hemat daripada beli 1.
    • Kalau punya voucher toko, gunakan nominal kecil tapi terasa, misalnya potongan 5.000 rupiah. Tujuannya memotong keraguan, bukan mengorbankan margin besar.
  4. Offer datar, tidak ada alasan untuk beli hari ini
    Iklan membawa orang yang sedang mempertimbangkan. Kalau kamu tidak memberi “dorongan sopan” untuk memutuskan, mereka akan menunda. Bukan karena tidak butuh, tapi karena tidak ada urgensi.

    Cara beresin:

    • Buat 1 penawaran yang konsisten selama 7 hari, jangan gonta-ganti tiap hari.
    • Pakai penanda sederhana di deskripsi: “Stok warna A terbatas” hanya kalau memang benar. Jangan mengarang.
    • Manfaatkan momentum tanggal kembar bila relevan. Shopee sendiri menjual paket Ads Credit yang ditujukan untuk periode kampanye besar, yang memberi sinyal bahwa momen kampanye memang jadi medan kompetisi utama.
  5. Kamu mengukur sukses dari klik, bukan dari niat beli
    Klik itu awal. Yang lebih penting adalah: add to cart, chat, checkout, repeat. Di sisi platform, bahkan ada mekanisme deteksi klik tidak valid yang tidak dibebankan. Jadi panik karena “klik terasa banyak” sering menyesatkan.

    Cara beresin:

    • Pilih 1 sampai 2 produk hero dulu. Jangan iklankan 10 produk sekaligus dengan budget kecil.
    • Rapikan foto utama: harus menjawab ukuran, isi, dan bentuk dalam 2 detik.
    • Pastikan deskripsi menjawab 3 hal: isi paket, ukuran, cara pakai, dan garansi bila ada.
    • Respons chat cepat. Banyak pembeli Indonesia butuh kepastian sebelum checkout, terutama untuk produk yang punya varian.

Checklist 20 menit untuk “beresin” sebelum tambah budget

Kalau kamu hanya punya waktu sebentar, lakukan ini dulu. Anggap ini respons cepat sebelum kamu menambah rupiah iklan.

Menit 1 sampai Menit 5: cek relevansi iklan ke judul Buka keyword utama. Bandingkan dengan 15 karakter pertama judul produk. Kalau tidak nyambung, betulkan judul dulu.

Menit 6 sampai Menit 10: rapikan judul sesuai batas dan logika pencarian Ingat batas nama produk maksimal 120 karakter. Buang kata yang tidak membantu pencarian. Utamakan jenis produk dan spesifikasi inti.

Menit 11 sampai Menit 15: audit “biaya total” Simulasikan checkout sebagai pembeli. Cek apakah ongkir tiba-tiba tinggi karena berat atau pilihan ekspedisi. Kalau ada, perbaiki pengaturan variasi atau bundling.

Menit 16 sampai Menit 20: pasang satu dorongan yang masuk akal Voucher kecil, bonus kecil, atau bundling. Bukan diskon brutal. Yang penting ada alasan untuk tidak menunda.

Kalau kamu ingin dibantu membedah kasusmu dengan cepat, kamu bisa ambil sesi Kunsultasi Gratis di peha.id. Tim Peha mulai dari hal paling membumi: judul, foto, harga total, baru masuk ke struktur iklan. Ini cocok untuk budget kecil yang harus tepat sasaran.

Penutupnya. Iklan Shopee bisa mendatangkan orang, karena memang sistemnya membayar klik lewat Ads Credit. Tapi closing sering ditentukan setelah klik, di area yang tidak ramai dibahas: judul, foto, biaya total, dan urgensi. Data perilaku belanja online juga konsisten menunjukkan banyak orang batal karena friksi dan biaya ekstra. Dalam beberapa minggu ke depan, pola ini cenderung makin terasa menjelang momen kampanye besar. Persaingan naik, iklan makin padat, dan yang menang biasanya bukan yang paling besar budgetnya, tapi yang paling rapi “pintunya”.

Comments

Loading…

Iklan Shopee: 5 Penyebab Ga Closing + Solusi | PEHA Agency