Konten Imlek 2026: Salah Strategi, Promo Bisa Sepi Meski Diskon Besar

Kalau Anda mengandalkan “merah-emas + diskon” untuk Imlek, Anda tidak sendirian. Banyak brand melakukan hal yang sama, lalu heran kenapa hasilnya biasa saja. Tahun ini konteksnya beda. Imlek 2026 jatuh pada 17 Februari 2026, dan di Indonesia ada cuti bersama 16 Februari 2026. Artinya, banyak orang punya ruang napas dua hari untuk belanja, kumpul keluarga, atau sekadar “treat-yourself” tanpa merasa bersalah.
Di sisi lain, Imlek 2026 juga menandai masuknya Year of the Horse (Shio Kuda) menurut kalender Tionghoa. Ini bukan soal ikut-ikutan shio. Ini soal momentum. Orang Indonesia (yang merayakan dan yang tidak) tetap terpapar tema yang sama di feed: reuni, hadiah, makanan, rapi-rapi rumah, dan awal baru.
Di bagian tengah artikel ini ada satu “bank ide” yang biasanya paling dicari: contoh konten per kategori bisnis (F&B, fashion, wellness, sampai jasa) plus bentuk promo yang tidak terasa murahan. Anda bisa pakai mentah-mentah, tinggal ganti produk dan nada brand.
Imlek 2026 itu bukan cuma hari raya, ini momen belanja yang “nyata”
Ada momen yang membuat orang gampang membuka dompet karena “ada alasan”. Imlek termasuk kategori itu. Pada 17 Februari 2026, perayaan Tahun Baru Imlek dimulai, dan banyak keluarga merencanakan makan bersama, bertukar hadiah, atau menyiapkan kebutuhan rumah.
Yang sering luput: momen seperti ini bekerja bukan hanya lewat diskon, tapi lewat rasa aman. Pembeli ingin yakin bahwa yang mereka beli tepat, cocok untuk dikasih, dan tidak bikin malu ketika diserahkan. Itulah kenapa Konten Imlek yang menang biasanya bukan yang paling heboh, tapi yang paling meyakinkan.
Ini yang berubah dan perlu dicermati: cara orang menemukan produk makin visual dan makin “langsung”. Laporan e-Conomy SEA 2024 menyorot pertumbuhan video commerce di Asia Tenggara, sinyal bahwa konten video dan live makin kuat dalam mempengaruhi keputusan belanja. Jadi, kalau Anda hanya mengandalkan poster statis “Happy Chinese New Year” dan satu posting promo, Anda sedang bertanding di arena yang sudah bergeser.
Apa artinya untuk Indonesia (secara konkret): dengan adanya cuti bersama 16 Februari 2026 dan libur 17 Februari 2026, ritme belanja sering memadat di H-3 sampai H+2. Banyak pembeli ingin barang tiba sebelum kumpul keluarga, atau minimal sebelum akhir pekan setelah Imlek. Dampaknya terasa di chat, stok, dan pengiriman. Konten Anda harus membantu orang mengambil keputusan cepat, bukan menambah keraguan.
Wajib Tahu:
Imlek 2026 di Indonesia jatuh pada 17 Februari 2026, dengan cuti bersama 16 Februari 2026 (ini memengaruhi puncak order dan SLA chat).
Secara global, Lunar New Year 2026 jatuh pada 17 Februari 2026 (jadi percakapan tema Imlek akan serempak di banyak platform).
Imlek 2026 adalah Year of the Horse (Shio Kuda), yang sering dipakai brand sebagai “tema energi” untuk storytelling, bukan sekadar ornamen.
Video commerce terus menguat di Asia Tenggara, jadi format video pendek, demo, dan live makin relevan untuk kampanye musiman.
Kalender momen belanja 2026 menekankan pentingnya perencanaan momen musiman lebih awal, karena kompetisi konten biasanya padat di minggu yang sama.
Ide Konten Imlek 2026 yang relevan tanpa klise, untuk brand non-romantis
Pegangan paling aman untuk Konten Imlek adalah tiga tema besar yang Anda sebutkan: reunion, luck, fresh start. Ini tema yang fleksibel. Bisa masuk ke makanan, baju, skincare, gym, klinik, sampai jasa kebersihan.
Kuncinya: jangan mulai dari “hari rayanya”. Mulailah dari situasi orangnya.
Reunion (kumpul dan jamuan)
Reunion bukan harus romantis. Ini tentang “ada orang datang ke rumah” atau “gue yang datang ke rumah orang”. Cocok untuk F&B, fashion, dan bahkan wellness.
Untuk F&B: buat konten “menu penyelamat” yang realistis. Misal: 3 lauk yang aman untuk meja makan keluarga besar, dan cara packing biar tetap cantik saat dibawa. Narasi yang jalan: Anda paham paniknya orang ketika mendadak harus bawa sesuatu.
Untuk fashion: bukan “baju merah”, tapi “baju yang bikin rapi tanpa drama”. Konten: 1 set outfit yang aman untuk ketemu keluarga besar, tidak ketat, tetap foto-ready.
Untuk wellness: naikkan angle “social battery”. Konten: ritual 15 menit sebelum kumpul keluarga biar kepala tidak panas.
Kalimat pembuka yang sering bekerja untuk tema reunion: “Besok kumpul keluarga. Anda bawa apa?” Sederhana, tapi langsung mengunci konteks.
Luck (rejeki, keberuntungan, dan ‘yang penting lancar’)
“Hoki” sering dipakai terlalu harfiah, padahal yang dicari orang itu rasa optimis. Anda bisa mengubahnya jadi sesuatu yang lebih membumi: hemat, efisien, dan rapi.
Untuk produk rumah tangga: barang kecil yang bikin rumah terasa ‘beres’ dalam 30 menit.
Untuk fashion: tips memilih bahan yang tidak gampang kusut untuk seharian acara.
Untuk F&B: bundle “bagi-bagi” yang jelas porsinya, jadi tidak ribut saat dibagi.
Hook yang aman: “Kalau tahun ini maunya satu hal saja: semuanya lancar.”
Fresh start (rapi-rapi, reset, dan versi baru diri sendiri)
Ini tema yang paling kuat untuk brand non-romantis, karena nyambung ke self-care dan produktivitas.
Untuk wellness: 30 hari challenge pasca Imlek: tidur lebih cepat, minum cukup, gerak ringan.
Untuk fashion: capsule wardrobe setelah ‘declutter’: 5 item yang saling masuk.
Untuk F&B: minuman atau menu “reset” setelah makan berat: enak, bukan hukuman.
Kalimat yang bisa dipakai: “Imlek lewat. Badan dan dompet jangan ikut berantakan.”
Format Konten Imlek yang paling gampang dieksekusi (tanpa tim besar): Pilih 2 format saja, tapi konsisten seminggu.
Video pendek 15 sampai 30 detik: demo, before-after, atau “ini yang sering salah”.
Carousel edukasi: 5 slide, masing-masing 1 ide, 1 manfaat, 1 bukti.
Kalau Anda punya live commerce, jangan jadikan live sebagai panggung panjang. Jadikan sebagai etalase yang menjawab pertanyaan umum: ukuran, cara pakai, ketahanan, dan “kalau buat gift, pilih yang mana”.
Ide promo Imlek 2026 yang terasa ‘niat’, bukan sekadar potong harga
Promo yang efektif saat Imlek biasanya punya dua fungsi: memudahkan orang memberi, dan memudahkan orang memilih.
“Angpao versi modern” yang tidak memaksa tradisi
Anda tidak harus menjual amplop merah. Anda bisa menjual “mekanisme hadiah”.
Contoh mekanik:
Voucher nominal kecil untuk pembelian berikutnya (jadi pembeli merasa dapat bonus, bukan diskon maksa).
Add-on gift card yang bisa ditulis nama penerima (bukti perhatian).
Gratis bungkus hadiah versi premium untuk pembelian minimal tertentu.
Di komunikasi, tekankan “biar Anda tidak mikir kebanyakan”.
Bundle reunion yang jelas dan tidak bikin bingung
Bundle yang gagal biasanya karena terlalu kreatif, namanya bagus, isinya tidak jelas.
Bundle yang laku:
Isi 3 item, masing-masing punya fungsi, dan dijelaskan 1 kalimat per item.
Ada “untuk siapa” di judulnya, misal: Bundle untuk yang suka manis, Bundle untuk yang jaga gula, Bundle untuk yang suka pedas.
Ini terasa simpel, tapi dampaknya besar. Orang belanja untuk keluarga itu malas membaca panjang.
Promo fresh start yang mengajak, bukan menggurui
Kalau Anda brand wellness, jangan menakut-nakuti. Imlek itu momen sosial, bukan momen menghakimi.
Contoh promo:
Paket “reset” 7 hari.
Paket “rebound” pasca liburan: beli 2 dapat 1 sesi konsultasi singkat.
Bonus panduan PDF mini (1 halaman) tentang cara pakai produk, atau rutinitas simpel.
Promo untuk operasional kecil: batasi, tapi jujur
UMKM sering takut bikin promo karena stok tipis. Jalan keluarnya bukan batal promo. Jalan keluarnya: batas kuota dan ditulis terang.
Kalimat yang elegan: “Kuota 120 paket untuk pengiriman sebelum 17 Februari 2026. Setelah itu, masuk batch berikutnya.” Anda melindungi diri sendiri, sekaligus memberi kepastian ke pembeli.
Di sini banyak brand terpeleset: janji terlalu manis, lalu kewalahan di chat. Ingat, momen libur membuat respon lambat mudah jadi alasan pembeli batal.
Kalau Anda ingin ide yang disesuaikan kategori produk dan kapasitas tim, Anda bisa mulai dari audit yang sederhana. Linknya ada di sini: Kunsultasi di peha.id .
Checklist eksekusi Konten Imlek 2026 (H-7 sampai H+3) yang realistis untuk UMKM
Anda tidak butuh 30 konten. Anda butuh urutan yang benar.
H-7 sampai H-5 (bangun konteks dan trust) Fokus konten: edukasi ringan, perbandingan, dan “ini yang sering ditanyain”. Tujuan: orang menyimpan dan mulai chat. Contoh judul:
“Kalau buat gift, pilih varian A atau B?”
“Ini beda ukuran yang sering bikin salah beli.”
H-4 sampai H-2 (dorong keputusan, buat pilihan terasa gampang) Fokus konten: bundle, benefit, dan bukti sosial. Bukti sosial tidak harus testimoni panjang. Bisa: screenshot rating, foto packaging dari pembeli (izin dulu), atau “berapa yang sudah terjual” kalau platform mendukung.
H-1 sampai Hari H 17 Februari 2026 (mode cepat dan jelas) Fokus konten: kepastian pengiriman, jam operasional chat, kuota promo. Kalimat yang menenangkan:
“Order sebelum jam X, dikirim hari ini.”
“Admin balas sampai jam Y.”
Tanggal 17 Februari 2026 ini penting untuk ditulis jelas, karena orang sering beli mepet.
H+1 sampai H+3 (retensi, bukan cuma closing) Banyak brand berhenti setelah Hari H. Padahal setelah kumpul keluarga, banyak orang kembali ke rutinitas dan mulai belanja untuk diri sendiri.
Fokus konten:
“Terima kasih, ini batch pengiriman berikutnya.”
“Kalau Anda dapat gift dari kami, ini cara pakainya biar awet.”
“Fresh start week: rutinitas singkat yang realistis.”
Metrik yang perlu Anda lihat (yang benar-benar berguna):
Rasio chat berujung checkout (kalau Anda jualan via DM).
View konten yang memicu klik ke katalog atau keranjang.
Komplain soal pengiriman dan salah ukuran (indikasi deskripsi dan konten belum menutup keraguan).
Repeat order H+7 sampai H+14 (indikasi kampanye tidak cuma ramai, tapi membangun kebiasaan).
Kalau Anda merasa semua ini terdengar bagus tapi “siapa yang ngerjain”, itu masalah paling umum. Tim kecil sering terjebak di hal harian: balas chat, packing, stok, lalu kampanye jadi seadanya. Di titik itu, biasanya yang dibutuhkan bukan ide lagi, tapi sistem eksekusi. Anda bisa mulai dari diskusi singkat untuk memetakan channel dan ritme konten yang masuk akal, lalu putuskan next step. Kunsultasi di peha.id.
Comments
Loading…