Telat Berbenah Itu Mahal. Kapan Saatnya Pakai Marketplace Management?

Ada toko yang kelihatan ramai. Posting jalan, chat masuk, order ada. Tapi pemiliknya gelisah, bukan karena malas, melainkan karena tiap hari seperti mengejar hal yang tidak ada habisnya. Stok tiba-tiba kosong, rating turun gara-gara telat balas, iklan nyala tetapi pembeli cuma “lihat-lihat”.
Di 5 Februari 2026, masalah seperti ini makin sering muncul karena medan perang marketplace berubah cepat. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat video commerce sudah menyumbang 25 persen dari total GMV e-commerce. Artinya, pembeli makin sering “ketemu” produk lewat konten, bukan cuma hasil pencarian. Kalau judul produk, stok, dan penawaran Anda belum rapi, konten yang sudah capek dibuat bisa tetap berujung ragu.
Yang paling dekat untuk Indonesia, skalanya besar dan kompetitif. Penetrasi internet Indonesia pada 2025 mencapai 80,66 persen, dengan sekitar 229,42 juta jiwa terkoneksi internet menurut survei APJII. Pasarnya luas, kompetitornya juga banyak. Di tengah pasar yang makin padat, bio bisnisnya bukan lagi “rajin posting”, tetapi “rajin beresin toko”.
Di bagian tengah artikel ini ada cara cepat menghitung effort harian dan memutuskan apakah Anda perlu Marketplace Management sekarang, atau masih bisa aman dikelola sendiri.
Kenapa toko makin butuh pengelolaan, bukan sekadar posting
Dulu, banyak toko bertumbuh dari satu kebiasaan: upload produk, balas chat, ikut promo besar. Sekarang polanya lebih kompleks. Konsumen pindah dari search ke discovery, dari “cari” ke “ketemu”. Laporan e-Conomy SEA 2025 menekankan perjalanan belanja makin dipengaruhi discovery berbasis konten dan retail media yang ikut naik.
Ada juga faktor ekosistem. Di Indonesia, dinamika platform dan regulasi membuat lanskap berubah, termasuk sorotan KPPU terkait transaksi Tokopedia dan TikTok Shop (TikTok Nusantara). KPPU mengeluarkan keputusan persetujuan bersyarat pada 18 Juni 2025. Di sisi lain, pemberitaan Reuters pada 2025 juga menyorot denda terkait praktik tertentu di TikTok Shop dan relasi dengan Tokopedia. Poinnya sederhana untuk penjual: aturan, program, dan prioritas platform bisa berubah. Toko yang rapi dan disiplin biasanya lebih tahan guncangan.
Ini yang perlu dicermati: ketika marketplace makin mirip media, “admin toko” berubah peran. Bukan cuma operator. Ia jadi pengelola katalog, penawaran, reputasi, dan ritme konten. Kalau semua itu masih ditanggung sendirian sambil urus operasional offline, kebocoran kecil cepat jadi kebocoran besar.
Wajib Tahu:
Video commerce sudah menyumbang 25 persen dari total GMV e-commerce di Asia Tenggara menurut e-Conomy SEA 2025.
Ekonomi digital Asia Tenggara disebut berada di jalur melampaui 300 miliar dolar AS GMV pada 2025. Skala pasar ini membuat persaingan antar toko makin rapat.
Penetrasi internet Indonesia pada 2025 mencapai 80,66 persen, setara sekitar 229,42 juta jiwa terkoneksi internet (APJII).
KPPU mengeluarkan persetujuan bersyarat untuk transaksi Tokopedia dan TikTok Nusantara pada 18 Juni 2025.
Platform menerbitkan kebijakan dan panduan listing yang bisa diperbarui. Contoh, TikTok Shop memiliki Prohibited Products Policy dan catatan pembaruan kebijakan pada 20 Januari 2026 di Seller University.
Tanda-tanda Anda butuh Marketplace Management
Anggap ini sebagai tes cepat, bukan vonis. Kalau Anda mengangguk di lebih dari tiga poin, Marketplace Management biasanya bukan “biaya tambahan”. Ia jadi cara mengembalikan fokus ke hal yang menghasilkan.
Pertama, Anda sering kehabisan stok tanpa sadar. Bukan karena barang tidak ada, tetapi pencatatan dan sinkronisasi tidak rapih. Efeknya berantai: pembatalan naik, chat protes, performa toko turun.
Kedua, rating dan ulasan mulai “berisik”. Keluhan yang sama muncul berulang. Telat kirim, salah varian, balasan kaku. Ini tanda SOP harian belum hidup.
Ketiga, Anda rajin ikut kampanye, tapi hasilnya tidak stabil. Hari ini meledak, besok sepi. Biasanya karena toko belum punya ritme: kalender promo, stok pengaman, dan konten yang siap tembak.
Keempat, iklan pernah dinyalakan, lalu dimatikan karena “boncos”. Banyak penjual menyalahkan iklan, padahal masalahnya sering ada di listing. Judul kurang jelas, foto tidak meyakinkan, variasi membingungkan. Bahkan platform sendiri mengingatkan batas karakter judul produk (contoh: 120 karakter) dan pentingnya memaksimalkan ruang itu.
Kelima, Anda mulai kewalahan mengurus konten. Video pendek butuh konsistensi. Sementara katalog butuh rapi. Ketika dua-duanya dikerjakan “kalau sempat”, biasanya yang terjadi bukan konsisten, tetapi acak.
Keenam, Anda tidak sempat melihat data. Bukan data rumit. Yang sederhana saja: produk mana yang paling sering dilihat tapi tidak dibeli, jam ramai chat, voucher mana yang paling kepakai. Kalau keputusan hanya pakai perasaan, biasanya Anda telat satu langkah.
Ketujuh, Anda punya target jelas (misal: naik 30 persen omzet per bulan), tapi aktivitas hariannya tidak nyambung ke target itu. Inilah celah yang biasanya ditutup oleh Marketplace Management: menghubungkan target, kalender kerja, dan eksekusi harian.
Estimasi effort harian dan siapa yang seharusnya mengerjakan
Mari bicara angka waktu, supaya tidak mengawang. Ini estimasi praktis untuk UMKM yang aktif di marketplace. Bukan angka resmi platform, melainkan perkiraan kerja operasional yang wajar agar toko tetap rapi dan responsif.
| Kondisi toko | Aktivitas wajib harian | Estimasi waktu per hari |
|---|---|---|
| Baru rapi dasar | balas chat, cek order, packing, update stok | 60–120 menit |
| Mulai tumbuh | plus upload/refresh produk, optimasi judul, follow-up ulasan | 120–180 menit |
| Sudah main promo dan konten | plus kalender kampanye, voucher, materi konten, evaluasi iklan | 180–300 menit |
Kalau Anda baca tabel itu dan langsung mikir, “Saya tidak punya waktu segitu,” itu jawaban yang jujur. Di sinilah keputusan bisnisnya muncul: apakah Anda menurunkan target, atau menaikkan kapasitas eksekusi.
Siapa yang seharusnya mengerjakan? Untuk toko kecil, bisa 1 orang admin yang punya checklist jelas. Untuk toko yang sudah menargetkan pertumbuhan, biasanya butuh pembagian peran: operasional (order, stok, CS), dan growth (katalog, promo, konten, iklan). Ketika semua ditumpuk ke satu orang, yang kalah pertama biasanya kualitas listing dan konsistensi konten. Padahal dua hal itu “pintu” traffic dan konversi.
Apa artinya untuk Indonesia secara konkret: mayoritas pembeli online ada di lingkungan yang sudah sangat digital. Dengan penetrasi internet 80,66 persen pada 2025, kompetisi bukan cuma antar toko di kota yang sama, tapi antar toko se-Indonesia yang berebut perhatian di layar yang sama. Marketplace Management yang rapi membuat Anda tidak kalah karena hal sepele: judul produk berantakan, stok tidak sinkron, atau penawaran tidak jelas.
Kalau Anda ingin keputusan yang lebih cepat, jalur paling aman adalah audit singkat. Anda bisa minta orang luar memeriksa kebocoran paling umum: katalog, performa produk, SOP CS, dan kesiapan promo. Kalau mau, Anda bisa konsultasi dan minta proposal paket lewat Peha.id.
Kalau mau mulai minggu ini, langkah 20 menit yang paling berdampak
Anda tidak perlu rombak semuanya sekaligus. Yang penting, Anda mulai dari titik yang membuat perbedaan dalam 7 hari ke depan.
Langkah 1 (5 menit): pilih 10 produk utama. Ambil produk yang paling sering ditanya atau paling sering terjual. Produk inilah yang jadi wajah toko.
Langkah 2 (7 menit): rapikan judul dan manfaat utama. Buat judul yang jelas, tidak berputar-putar, dan sesuai batas karakter. Platform menyebut judul produk punya batas karakter (contoh 120 karakter) sehingga tiap kata harus bekerja. Fokus pada: jenis produk, varian penting, ukuran, dan pembeda yang benar-benar relevan.
Langkah 3 (5 menit): cek stok dan varian. Pastikan varian yang paling laku tidak “kecolongan” habis. Banyak toko bocor omzetnya karena varian favorit kosong.
Langkah 4 (3 menit): buat satu penawaran yang terasa tegas. Misal: voucher toko untuk produk tertentu, bundling, atau gratis ongkir dengan syarat yang jelas. Tujuannya bukan diskon besar, tapi urgensi yang masuk akal.
Sesudah itu, barulah Anda pikirkan keputusan besar: dikelola sendiri atau pakai Marketplace Management profesional. Ke depan, tren search dan discovery akan makin bercampur. Laporan e-Conomy SEA 2025 menyebut perjalanan belanja bergerak ke discovery yang lebih dinamis, dan ini menuntut toko lebih siap di katalog dan konten. Kalau Anda sudah tahu kebocoran utamanya, langkah berikutnya jadi lebih sederhana.
Kalau Anda ingin jalur yang lebih cepat dan terukur, silakan ajukan konsultasi dan minta proposal paket Marketplace Management di Peha.id. Fokusnya bukan bikin toko terlihat sibuk, tapi bikin toko lebih rapi, lebih siap promo, dan lebih mudah ditingkatkan.
Comments
Loading…