Promo Shopee dan TikTok Shop: Checklist 7 Hari dari H-7 sampai H+1

Promo Shopee dan TikTok Shop: Checklist 7 Hari dari H-7 sampai H+1

Orang belanja itu cepat, tapi menilai toko jauh lebih cepat. Di momen promo, calon pembeli membuka produk, cek harga, lalu pindah ke toko sebelah dalam hitungan detik. Itulah kenapa banyak UMKM merasa “sudah kerja keras bikin konten”, tetapi hasil promo tetap naik turun. Masalahnya sering bukan di konten. Masalahnya ada di cara eksekusi.

Kenapa ini penting sekarang. Karena pasar makin padat dan biaya salah langkah makin mahal. Laporan e-Conomy SEA 2024 mencatat nilai ekonomi digital Indonesia sekitar US$90 miliar pada 2024 (GMV overall digital economy), dan persaingan e-commerce ikut terdorong oleh naiknya video commerce. Di atas kertas, peluangnya besar. Di lapangan, tekanan juga besar.

Dampak paling dekat untuk pembaca Indonesia sederhana. Saat promo “double date” datang, stok menipis tanpa prediksi, voucher dibuat asal-asalan, iklan dinyalakan mendadak, dan chat admin meledak. Akhirnya yang menang bukan yang paling kreatif, tapi yang paling siap.

Fakta kunci yang sering dilewatkan: platform e-commerce Asia Tenggara yang mencakup Tokopedia, Shopee, Lazada, dan TikTok Shop mencatat GMV gabungan sekitar US$128,4 miliar pada 2024, menurut Momentum Works. Kompetisi untuk “berebut atensi” bukan lagi isu kecil.

Ada info penting yang biasanya baru terasa di tengah promo, bukan di awal: biaya iklan dan diskon itu bukan satu tombol. Itu rangkaian keputusan. Dan rangkaian itu bisa kamu rapikan kalau kamu punya timeline. Di bagian tengah artikel ini, aku buka urutannya dari H-7 sampai H+1, termasuk bagian mana yang harus kamu kunci duluan agar tidak keburu kebakaran.

Kenapa Promo Shopee dan TikTok Shop bikin UMKM gampang panik

Promo marketplace bukan cuma “diskon besar”. Promo adalah perubahan perilaku belanja. Pembeli jadi lebih sensitif harga, lebih aktif membandingkan, dan lebih cepat pindah platform kalau prosesnya ribet. Kamu mungkin merasa sudah rajin posting di IG atau TikTok, tapi begitu masuk marketplace, ritmenya beda. Di sini, faktor seperti stok, ongkir, voucher, dan kecepatan respons sering jadi penentu.

Shopee, misalnya, punya ekosistem promosi dan iklan yang mendorong persaingan di kata kunci, penempatan, dan performa listing. Di sisi lain, TikTok Shop memadukan discovery berbasis video dengan kampanye produk dan konten. Dokumentasi TikTok Shop menjelaskan mekanisme “product campaigns” yang bisa diikuti seller lewat Seller Center, termasuk status registrasi produk dan aturan kampanye.

Jadi begini kronologinya yang sering terjadi pada UMKM. H-3 baru mulai mikir diskon. H-2 baru sadar stok kurang. H-1 baru bikin voucher, tapi syaratnya terlalu rumit atau terlalu longgar. Hari H iklan dinyalakan karena panik, lalu budget habis tanpa kontrol. H+1 bingung karena order banyak, tapi margin serasa hilang.

Kalau kamu pernah mengalami itu, kamu tidak sendirian. Dan kabar baiknya, ini bukan masalah “kamu kurang jago marketing”. Ini masalah sistem kerja yang belum dibikin rapi.

Ini yang berubah di marketplace Indonesia menjelang 2026

Ada dua perubahan besar yang perlu dicermati.

Pertama, kompetisi makin terkonsentrasi dan agresif. Sejumlah laporan pasar menyebut Shopee memimpin pangsa di Indonesia dalam beberapa metrik, dan TikTok Shop makin serius setelah integrasi dengan Tokopedia. Contoh yang sering dikutip media bisnis: Business Times menuliskan Shopee memegang sekitar 46 persen pangsa e-commerce Indonesia (berdasarkan rujukan riset yang mereka angkat), dan mereka juga menyorot dinamika pasca aksi korporasi TikTok dan Tokopedia. Angka pangsa pasar bisa berbeda antar metodologi (GMV vs transaksi vs pengguna). Karena itu, perlakukan angka sebagai konteks, bukan dogma. Yang penting untuk UMKM: kompetisi tidak menunggu kamu siap.

Kedua, tata kelola dan kepatuhan makin nyata. Pada 26 Juni 2025, sejumlah media melaporkan KPPU memberi persetujuan bersyarat atas transaksi TikTok dan Tokopedia, lengkap dengan syarat terkait praktik harga, pembayaran, dan logistik, serta masa pengawasan yang berjalan hingga sekitar Juni 2027. Ini sinyal bahwa ekosistem makin diawasi.

Di ranah pajak, pemerintah juga bergerak. Pada 2025, muncul ketentuan penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh Pasal 22 dengan tarif 0,5 persen untuk transaksi tertentu, dengan detail ambang dan pengecualian yang dijabarkan di berbagai ulasan kebijakan dan artikel pendamping. Kalau kamu UMKM, poinnya bukan untuk menakut-nakuti. Poinnya: operasional marketplace makin “dewasa”. Dan kamu juga perlu mendewasakan cara kerja promo, terutama pencatatan, margin, dan alur order.

Wajib Tahu:

  1. TikTok Shop menjelaskan bahwa tim operasional platform bisa mendaftarkan produk ke kampanye tertentu, dan seller dapat meninjau serta menyetujui beberapa pendaftaran di tab Campaigns. Ini memengaruhi kesiapan stok dan harga karena kampanye bisa berjalan cepat.

  2. TikTok Shop juga memisahkan product campaigns dan content campaigns. Seller bisa ikut product campaigns tanpa wajib ikut content campaigns, tetapi untuk content campaign tertentu, seller perlu mendaftar product campaign lebih dulu. Ini penting buat kamu yang mengandalkan live.

  3. Shopee Ads dijalankan dengan sistem saldo prabayar (prepaid), dan iklan tidak tayang kalau saldo nol. Kedengarannya sepele, tapi ini salah satu penyebab paling sering dari “kok traffic promo sepi” saat Hari H.

  4. Di e-Conomy SEA 2024 (Indonesia), persaingan e-commerce disebut menguat seiring video commerce yang lepas landas. Artinya, konten dan commerce makin menyatu, dan timeline promo perlu memasukkan aspek konten, bukan cuma diskon.

Ini yang perlu dicermati: banyak UMKM menganggap promo itu urusan “potong harga”. Padahal di 2026, promo adalah orkestrasi. Harga, stok, konten, voucher, dan iklan harus ngomong satu sama lain.

Timeline H-7 sampai H+1: Checklist Promo Shopee dan TikTok Shop

Kita pakai format sederhana. Kamu tidak perlu tim besar. Kamu cuma perlu 20 menit per hari selama 7 hari sebelum puncak, lalu disiplin pada hari H dan H+1.

H-7: Kunci target dan batas aman

Mulai dari angka yang paling tidak seksi tapi paling menyelamatkan: margin. Ambil 20 menit untuk menjawab tiga hal. Produk mana yang mau kamu dorong. Berapa diskon maksimum yang masih aman. Dan stok minimal yang harus tersedia supaya kamu tidak cancel order.

Kalau kamu ikut kampanye, cek syaratnya dari awal. TikTok Shop, misalnya, punya halaman panduan kampanye yang menekankan status registrasi produk dan manajemen kuantitas. Kalau kamu tidak ikut kampanye platform, tetap bisa bikin “mini campaign” toko sendiri dengan voucher dan bundling, tapi pastikan aritmetikanya beres.

H-6: Rapikan etalase yang “mengganti sales”

Di marketplace, produk adalah sales. Pastikan judul produk jelas, foto utama bersih, dan variasi tidak membingungkan. Ini bukan kerja desain mahal. Ini kerja rapi. Untuk TikTok Shop, siapkan juga aset konten pendek yang menjawab: “ini barang apa”, “buat siapa”, “beda dari yang lain apa”, “buktinya apa”.

H-5: Siapkan voucher yang tidak menggerus margin

Voucher itu alat, bukan hadiah. Dokumentasi Shopee tentang voucher seller menunjukkan ada struktur dan pengaturan yang bisa membuat voucher lebih terarah (misalnya syarat minimal belanja, periode, segmentasi tertentu). Kuncinya, jangan bikin voucher “untuk semua orang” kalau stok kamu terbatas. Lebih baik kecil tapi tepat, dibanding besar tapi bikin kamu ngos-ngosan.

H-4: Bangun stok dan skenario terburuk

Hari ini khusus untuk logistik internal. Kalau kamu punya supplier, konfirmasi ulang lead time. Kalau kamu produksi sendiri, hitung kapasitas real. Buat skenario terburuk: “kalau order naik dua kali lipat, apa yang pecah duluan”. Jawabnya bisa sesederhana: admin, packing, atau stok.

H-3: Rekam konten, bukan baru cari ide

Di H-3, kamu seharusnya sudah punya minimal 3 konten siap tayang untuk TikTok, Reels, atau Shorts. Fokusnya satu: dorong klik ke produk yang kamu pilih. Jangan ke semua produk. Kamu sedang promo, bukan pamer katalog.

Kalau kamu ragu harus pakai iklan atau tidak, ingat satu hal: iklan itu mempercepat apa yang sudah bekerja. Iklan jarang menyelamatkan listing yang berantakan.

H-2: Siapkan iklan dengan kontrol ketat

Di Shopee, pastikan saldo iklan ada dan kamu tahu batas belanja harian. Shopee Ads berbasis saldo prabayar, dan pengeluaran bisa dilihat di riwayat transaksi. Pilih satu objektif dulu. Contoh: dorong satu produk “hero” dengan kata kunci utama, bukan menyebar ke terlalu banyak produk.

Untuk TikTok Shop, kalau kamu ikut kampanye, cek kembali status registrasi, harga kampanye, dan kuantitas. Kalau kamu pakai iklan TikTok (di luar Shop campaign), pastikan landing-nya tidak membingungkan. Satu video, satu pesan, satu produk.

H-1: Simulasi

Ini hari simulasi. Klik semua link. Coba checkout produk kamu sendiri. Cek apakah voucher berfungsi. Cek stok tidak minus. Cek admin tahu template balasan cepat. Di TikTok Shop, cek jadwal live kalau kamu mau live. Di Shopee, cek banner toko dan voucher toko tampil.

Kalau kamu ingin ikut momentum “double date”, jadwal dan mekanismenya bisa berbeda antar negara dan kategori. Shopee sering merilis materi promosi per wilayah lewat kanal resmi. Jadi, jangan tebak tanggal puncak hanya dari rumor grup. Pegang kanal resmi platform atau halaman program seller yang relevan.

Hari H: Eksekusi yang tenang

Bukan saatnya gonta-ganti strategi. Fokus ke tiga metrik: stok hero aman, iklan tidak bocor, chat terjawab cepat. Kalau kamu live, pastikan kamu sudah punya “alur live” 30 menit pertama. Tunjukkan produk hero, bukti, cara pakai, lalu jawab pertanyaan paling sering. Tidak perlu jadi presenter sempurna. Yang penting jelas dan meyakinkan.

H+1: Audit cepat dan rapikan untuk gelombang berikutnya

Hari setelah promo itu emas. Banyak UMKM melewatkannya karena capek. Padahal H+1 adalah hari kamu menemukan pola. Produk mana yang paling untung. Voucher mana yang benar-benar dipakai. Iklan mana yang membakar uang.

Kalau kamu menjalankan campaign, dokumentasi TikTok Shop menekankan pemantauan status dan catatan kampanye. Di Shopee, biasakan cek data iklan dengan ritme yang masuk akal. Ada panduan Shopee Ads yang menyarankan memberi waktu cukup untuk data sebelum terlalu banyak mengubah setelan, terutama saat kampanye baru berjalan.

Apa berikutnya: ukur, rapikan, lalu scale dengan tenang

Setelah timeline ini jalan sekali, kamu akan merasakan bedanya. Kamu tidak lagi “menunggu keajaiban diskon”. Kamu tahu apa yang kamu lakukan, dan kenapa.

Yang kemungkinan terjadi berikutnya di 2026, berdasarkan arah laporan dan dinamika platform: momen promo akan makin sering, dan video commerce makin normal. e-Conomy SEA mencatat pergeseran besar dalam cara orang menemukan produk, dan kompetisi e-commerce terdorong oleh konten video serta integrasi platform. Di sisi lain, TikTok Shop secara global juga dilaporkan tumbuh cepat dalam skala transaksi di beberapa periode, yang artinya dorongan kompetitif akan terasa sampai ke seller kecil.

Kalau kamu membaca ini sambil mikir, “Oke, aku ngerti. Tapi aku tidak punya waktu merapikan semuanya”, itu wajar. Banyak UMKM kuat di produk, tapi kehabisan napas di eksekusi.

Di titik itu, kamu bisa tetap mandiri dengan checklist ini, atau kamu bisa mempercepatnya dengan bantuan tim yang memang kerjaannya merapikan marketplace. Kalau kamu ingin promonya jalan rapi, konten nyambung, voucher tidak bikin rugi, dan iklan bisa dikontrol, kamu bisa lihat paket Marketplace Management di Peha.id. Formatnya bisa ringan dulu, fokus audit dan perapihan fondasi sebelum kamu gas double date berikutnya.

Yang penting, jangan menunggu panik datang baru bergerak. Di marketplace, yang menang biasanya bukan yang paling heboh. Yang menang adalah yang paling siap, paling rapi, dan paling cepat belajar dari H+1.

Comments

Loading…

Promo Shopee: Checklist 7 Hari Double Date | PEHA Agency