Stok Barang Habis Itu “Uang Hilang”. Pakai Template Ini Biar Nggak Kecolongan

Jam 10 pagi, notifikasi order masuk. Jam 10 lewat sedikit, calon pembeli nanya, “Ready hari ini?” Kamu jawab jujur: “Kosong, Kak. Restock besok.”
Biasanya selesai di situ. Satu order hilang, satu chat dingin. Kalau ini kejadian sekali dua kali, mungkin masih bisa ditoleransi. Masalahnya, di marketplace, stok kosong itu bukan cuma kehilangan transaksi. Ia ikut menggerus momentum, iklan jadi boros, dan kepercayaan turun pelan pelan.
Skalanya juga tidak kecil. IHL Group, analis ritel global, memperkirakan biaya “inventory distortion” pada 2024 mencapai sekitar 1,7 triliun dolar AS, dengan porsi out-of-stocks sekitar 1,2 triliun dolar AS (sisanya overstocks). Angkanya global, tapi logikanya sama sampai ke level UMKM: stok kosong itu biaya yang tidak kelihatan di laporan harian, tapi terasa di akhir bulan.
Sekarang tarik ke Indonesia. APJII melaporkan penetrasi internet 80,66 persen pada 2025, setara 229.428.417 jiwa dari populasi 284.438.900 jiwa. Artinya, pasar online makin ramai, kompetitor makin dekat, dan pembeli makin terbiasa “klik sekarang, kirim cepat”. Di saat yang sama, laporan e-Conomy SEA 2025 (Google, Temasek, Bain) menegaskan ekonomi digital Asia Tenggara berada di lintasan melampaui 300 miliar dolar AS GMV pada 2025. Trafik besar memang peluang, tapi juga mempercepat ritme kompetisi.
Teaser dulu: di bagian tengah, kamu akan dapat template stok sederhana yang bisa langsung kamu copy ke Google Sheets. Targetnya bukan sempurna. Targetnya jalan dulu, rapi dulu.
Ini yang perlu dicermati: pola belanja makin musiman dan makin padat event. Bahkan video commerce diproyeksikan makin dominan di Asia Tenggara, jadi lonjakan demand bisa datang tiba tiba saat konten kamu “kena” dan stok kamu belum siap.
Template Stok Barang Reorder Point (Gratis)
Kalau kamu cuma mau satu kebiasaan baru, ambil ini: reorder point (titik kapan harus restock).
Rumus dasarnya sederhana: **Reorder Point (ROP) **= (Rata-rata penjualan harian x Lead time) + Safety stock
Definisi gampangnya: saat stok menyentuh angka ROP, kamu harus pesan ulang. Bukan saat stok sudah nol.
Agar mudah dipakai UMKM, template ini dibuat “cukup” dulu. Kamu bisa tambah kolom nanti.
Wajib Tahu:
ROP itu pemicu, bukan ramalan. Ia membantu kamu tahu kapan pesan ulang berdasarkan demand dan lead time.
Safety stock bukan tanda kamu boros. Ia “penyangga” untuk variasi demand dan keterlambatan supplier.
Stok kosong berdampak dua arah: hilang penjualan dan hilang momentum. Itulah sebabnya isu out-of-stocks masuk komponen terbesar dalam “inventory distortion” versi IHL.
Template Excel itu sah. Microsoft sendiri menyediakan inventory templates gratis sebagai starting point untuk tracking stok.
| SKU | Nama Produk | Varian | Supplier | Lead Time (hari) | Rata-rata Jual per Hari | Safety Stock | Reorder Point (ROP) | Stok Saat Ini | Status | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| SK001 | Contoh: Kopi Susu 250 ml | Botol | Supplier A | 5 | 8 | 10 | 50 | 42 | REORDER | Contoh simulasi |
| Cara hitung cepat di kolom (Google Sheets): |
Reorder Point (ROP): =(Rata-rata Jual per Hari*Lead Time)+Safety Stock
Status (REORDER / AMAN): =IF(Stok Saat Ini<=Reorder Point,"REORDER","AMAN")
Kalau kamu jual banyak SKU, pakai satu sheet untuk semua produk dulu. Nanti kalau sudah kebiasaan, baru pisah per kategori.
Cara setting dalam 20 menit
Bagian ini sengaja dibuat seperti checklist waktu, karena UMKM biasanya tidak butuh teori panjang. Kamu butuh sistem kecil yang bisa kamu jalankan sambil jualan.
Menit 1 sampai 5: rapikan daftar produk Tulis SKU seadanya tapi konsisten. Kalau belum punya SKU, pakai kode pendek yang kamu ngerti. Tujuannya supaya kamu tidak ketuker varian (misal ukuran, warna, rasa).
Menit 6 sampai 10: isi lead time yang realistis Lead time itu jarak dari “pesan” sampai “barang siap dijual”. Kalau supplier bilang 3 hari tapi sering molor jadi 5 hari, tulis 5 hari dulu. Nanti bisa kamu koreksi setelah 2 minggu data.
Menit 11 sampai 15: ambil rata rata jual harian yang paling gampang Pilih cara paling mudah:
Ambil penjualan 14 hari terakhir, bagi 14.
Atau pakai 7 hari terakhir kalau produk kamu cepat berubah.
Tidak perlu sempurna. Yang penting ada angka pegangan.
Menit 16 sampai 18: pasang safety stock versi UMKM Kalau kamu belum pernah hitung safety stock, pakai versi simpel dulu:
Produk cepat habis: safety stock = penjualan 2 hari
Produk lambat: safety stock = penjualan 1 hari
Kalau kamu mau versi lebih “rapi”, ada rumus yang umum dipakai: (penjualan maksimal harian x lead time maksimum) dikurangi (penjualan harian rata rata x lead time rata rata). Tapi ingat, untuk eksekusi cepat, kamu boleh mulai dari pendekatan sederhana.
Menit 19 sampai 20: bikin alarm visual Pakai conditional formatting:
Kalau “Status = REORDER”, warnai merah.
Kalau “Stok Saat Ini” tinggal 1,5 kali ROP, warnai kuning (tanda awas).
Selesai. Setelah ini, yang kamu butuhkan cuma disiplin update.
Simulasi (biar kebayang) Kamu jual 8 botol per hari. Supplier butuh 5 hari. Kamu pasang safety stock 10 botol. ROP = (8 x 5) + 10 = 50 botol. Artinya: begitu stok menyentuh 50, kamu pesan ulang. Bukan nunggu 0.
Apa artinya buat UMKM Indonesia, dan langkah berikutnya
Dampak paling dekat untuk pembaca Indonesia itu begini: pasar online makin lebar, tapi toleransi pembeli makin tipis. Dengan penetrasi internet 80,66 persen pada 2025, calon pembeli bisa pindah toko dalam 10 detik. Mereka tidak harus menunggu restock kamu.
Di sisi lain, kalender promo juga makin padat. Banyak UMKM ikut “double date” karena trafiknya nyata, tapi sering lupa satu hal: promo itu bukan cuma diskon, ia juga “tes kesiapan stok”. Saat promo jalan, semua kelemahan operasional muncul di permukaan.
Respons paling aman biasanya bukan langsung beli software mahal. Mulailah dari dua kebiasaan:
Update stok harian untuk SKU terlaris. Minimal 10 produk teratas.
Stock opname ringan mingguan. Tujuannya mencocokkan catatan dengan stok fisik, supaya selisih cepat ketahuan. Di konteks bisnis, stock opname dipahami sebagai proses menghitung stok fisik untuk memastikan kesesuaian dengan catatan.
Apa berikutnya yang kemungkinan terjadi pada 2026? Kompetisi makin cepat, channel makin beragam, dan lonjakan permintaan makin sering dipicu konten. Kalau kamu menunggu “nanti kalau sudah besar”, biasanya keburu capek duluan.
Kalau kamu mau, kamu bisa mulai dari template ini hari ini juga. Lalu, saat sudah jalan 1 sampai 2 minggu, baru kita rapikan versi yang lebih tajam: pemetaan SKU A-B-C, hitung margin aman untuk safety stock, dan SOP restock per supplier.
Butuh dibantu audit biar tidak jalan sendirian? Silakan ajukan audit operasional dan kita bedah titik bocornya dari stok, alur gudang, sampai ritme restock. Klik: Konsultasi di Peha.
Comments
Loading…