TikTok Shop vs Shopee 2026: Checklist Pilih Channel yang Paling Masuk

TikTok Shop vs Shopee 2026: Checklist Pilih Channel yang Paling Masuk

Kalau kamu sedang mikir “TikTok Shop vs Shopee” buat 2026, kamu tidak sendirian. Banyak seller Indonesia sudah kerja keras bikin konten, pasang iklan, dan ikut kampanye, tapi tetap bingung: harus fokus di mana supaya hasilnya terasa.

Ini bukan debat siapa paling hebat. Ini soal siapa paling cocok untuk produkmu dan untuk kapasitas harian timmu.

Ada 1 fakta yang bikin pertanyaan ini makin penting sekarang. Laporan e-Conomy SEA 2025 (dirilis 4 November 2025) menyebut video commerce sudah menyumbang 25 persen dari GMV e-commerce Asia Tenggara, nilainya sekitar US$51 miliar. Artinya, belanja lewat konten dan live bukan tren kecil lagi.

Di Indonesia, dampaknya sederhana: kalau kamu hanya jago “search” tapi absen di “discovery”, atau sebaliknya, kamu berisiko kehilangan pembeli yang sebenarnya sudah siap checkout. Dan di bagian tengah nanti, ada cara cepat menilai “produkmu hidup di search” atau “produkmu hidup di konten”, tanpa perlu debat panjang.

Kenapa TikTok Shop vs Shopee makin serius di 2026

Dulu, seller bisa nyaman mengandalkan 1 jalur. Sekarang ekosistemnya melebar. Konten jadi pintu masuk, marketplace tetap jadi mesin transaksi, dan platform besar saling menempelkan fitur belanja ke video dan live.

Shopee sudah lama kuat di perilaku “niat beli”. Orang masuk, ketik kata kunci, bandingkan harga, lihat ulasan, lalu checkout. TikTok Shop kuat di perilaku “ketemu dulu baru kepingin”. Kamu bisa tidak cari apa pun, tapi 30 detik kemudian sudah masuk keranjang.

Kompetisinya juga makin terbuka. Reuters melaporkan TikTok Shop mencatat GMV sekitar US$16,3 miliar di Asia Tenggara pada 2023 (mengutip Momentum Works), sementara total GMV e-commerce Asia Tenggara pada 2023 sekitar US$114,6 miliar. Ini konteks penting: pangsa belanja dari konten sudah cukup besar untuk mengubah strategi banyak brand.

Di sisi Shopee, skala transaksi dan ritme order tetap masif. Sea Limited melaporkan GMV e-commerce full year 2024 sebesar US$100,5 miliar dan jumlah order 2024 sebesar 10,9 miliar order. Angka ini bukan Indonesia saja, tapi cukup menggambarkan betapa “mesin marketplace” masih sangat dominan.

Wajib Tahu:

  • Video commerce sudah 25 persen dari GMV e-commerce Asia Tenggara, sekitar US$51 miliar (dirangkum pada e-Conomy SEA 2025, rilis 4 November 2025).

  • TikTok Shop di Asia Tenggara tercatat sekitar US$16,3 miliar GMV pada 2023 (Reuters mengutip Momentum Works).

  • Shopee (Sea) melaporkan GMV e-commerce 2024 sebesar US$100,5 miliar dan 10,9 miliar order (skala regional).

  • TikTok Shop sempat ditutup setelah Indonesia melarang transaksi belanja di media sosial pada September 2023, lalu kembali lewat struktur Tokopedia setelah TikTok mengakuisisi 75,01 persen saham Tokopedia (deal rampung 31 Januari 2024 menurut Reuters).

  • KPPU memberi persetujuan bersyarat pada 18 Juni 2025 dan menyatakan pengawasan kepatuhan berjalan sampai 17 Juni 2027 (ini sinyal: aspek regulasi bukan formalitas).

Ini yang perlu dicermati sebelum kamu pilih channel

Ada 3 hal yang sering luput saat orang membandingkan TikTok Shop vs Shopee.

Pertama, regulasi dan struktur operasional TikTok Shop di Indonesia bukan sekadar “buka toko lalu jual”. Permendag Nomor 31 Tahun 2023 (diundangkan 26 September 2023) mengatur kerangka Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Regulasi ini jadi salah satu alasan pemerintah menertibkan transaksi belanja di media sosial pada 2023.

Kedua, setelah TikTok masuk ke Tokopedia, ada pengawasan persaingan usaha yang lebih ketat. Reuters melaporkan KPPU menjatuhkan denda Rp15 miliar kepada TikTok pada 29 September 2025 karena keterlambatan pelaporan akuisisi Tokopedia. Ini bukan soal dramanya. Ini pengingat bahwa operasi platform bisa dipengaruhi kewajiban kepatuhan.

Ketiga, jalur traffic yang kamu “beli” dan yang kamu “bangun” berbeda karakter.

  • Di Shopee, “search” dan “campaign” sangat menentukan. Judul produk, atribut, harga, ulasan, dan performa pengiriman bisa langsung terasa dampaknya.

  • Di TikTok Shop, konten, live, dan affiliate bisa jadi pengungkit utama. Tetapi itu berarti ada beban baru: produksi konten, ritme live, dan manajemen komentar yang cepat.

Apa artinya untuk Indonesia, secara konkret? Indonesia jadi arena uji coba fitur belanja lintas platform. YouTube Shopping misalnya, diluncurkan di Indonesia dan bermitra dengan Shopee untuk tahap awal (pilot) sebelum ekspansi ke negara lain di Asia Tenggara. Kalau kamu seller Indonesia, ini berarti perhatian platform ke pasar Indonesia besar. Peluangnya ada. Kompetisinya juga makin padat. Yang menang biasanya bukan yang paling ramai, tapi yang paling rapi mengelola channel.

Checklist pilih channel: cocoknya TikTok Shop, Shopee, atau dua-duanya

Sekarang bagian praktisnya. Ambil kertas, atau catatan di HP. Jawab cepat saja.

Skor cepat (0 sampai 2 per poin) Beri nilai 2 jika “iya banget”, 1 jika “kadang”, 0 jika “tidak”.

  1. Produkmu mudah “dibuktikan” lewat video 15 sampai 30 detik (cara pakai, before-after, unboxing).

  2. Margin kamu cukup untuk main promo dan komisi affiliate.

  3. Tim kamu siap respon chat dan komentar cepat, terutama saat jam ramai.

  4. Kamu punya stok stabil dan sanggup menghindari batal karena kosong.

  5. Pembeli biasanya butuh edukasi dulu sebelum paham manfaat produk.

  6. Produkmu sering dicari lewat kata kunci spesifik (ukuran, varian, tipe).

  7. Ulasan dan rating sudah lumayan, atau kamu punya strategi untuk mendorong review.

  8. Kamu kuat di foto, detail spesifikasi, dan variasi yang rapi.

  9. Kamu siap konsisten ikut momentum campaign tanpa keteteran.

Cara baca hasilnya:

  • Jika poin 1, 2, 3, 5 dominan tinggi, TikTok Shop cenderung lebih “natural” buat kamu.

  • Jika poin 6, 7, 8 dominan tinggi, Shopee biasanya lebih cepat terasa hasilnya.

  • Jika dua sisi sama kuat, strategi dua channel masuk akal, tapi kamu wajib bikin batasan operasional (contoh: TikTok untuk discovery dan produk hero, Shopee untuk katalog lengkap dan repeat order).

Agar lebih kebayang, ini contoh 5 kategori yang sering muncul di UMKM:

Kategori TikTok Shop kuat saat Shopee kuat saat
Skincare dan bodycare Ada demo pemakaian, testimoni, live rutin Variasi banyak, pembeli bandingkan harga dan review
Fashion Ada mix and match, try-on, live flash Ukuran dan warna lengkap, pembeli cari model spesifik
Makanan kering Bisa tunjukkan tekstur dan packing Pembeli cari oleh-oleh, repeat order, pengiriman rapi
Aksesoris gadget Bisa tunjukkan fungsi cepat Pembeli cari tipe yang pas, cocok untuk keyword spesifik
Home living Ada konten before-after (rapi, dekor) Katalog besar, pembeli bandingkan fitur dan ukuran

Bagian yang sering bikin gagal bukan strategi, tapi ekspektasi. Banyak orang masuk TikTok Shop berharap “konten meledak”, padahal yang membuat stabil adalah rutinitas. Banyak orang masuk Shopee berharap “tinggal pasang produk”, padahal yang membuat hidup adalah optimasi judul, atribut, dan campaign.

Kalau kamu ingin versi yang lebih rapih untuk bisnismu, kamu bisa minta kami bantu mapping channel berdasarkan kategori produk, margin, dan kapasitas tim. Linknya di sini: konsultasi pemilihan channel.

Langkah 20 menit untuk ambil keputusan, lalu eksekusi 14 hari

Ini pola kerja yang realistis, bukan teori.

20 menit pertama (hari ini juga):

  • Tentukan 10 SKU “paling layak dipush” (margin aman, stok aman, repeat potential).

  • Tetapkan 1 tujuan utama per channel. Contoh: TikTok Shop untuk tarik pembeli baru, Shopee untuk konversi dan repeat.

  • Tulis 1 aturan ops yang simpel: siapa pegang chat, siapa update stok, siapa cek pesanan batal.

Rencana 14 hari (biar tidak panik):

  • Hari 1 sampai 3: rapikan 10 SKU itu. Foto, judul, variasi, deskripsi ringkas.

  • Hari 4 sampai 7: jalankan 1 format konten yang bisa diulang. Contoh: demo 15 detik, atau 1 sesi live singkat di jam tetap.

  • Hari 8 sampai 10: pasang promo ringan yang masuk akal. Jangan bunuh margin.

  • Hari 11 sampai 14: evaluasi metrik dasar saja. View ke klik, klik ke chat, chat ke checkout, checkout ke selesai.

Di titik ini, biasanya pilihan channel jadi lebih jelas tanpa debat. Kalau TikTok Shop ramai view tapi checkout seret, masalahnya sering ada di listing, harga, atau urgensi penawaran. Kalau Shopee sudah tampil di search tapi konversi rendah, biasanya ada masalah di foto utama, variasi, atau kepercayaan (rating dan ulasan).

Dan kalau kamu merasa semua ini “keliatan gampang tapi di lapangan makan waktu”, itu normal. Biaya terbesar UMKM sering bukan uang iklan. Waktu yang bocor, itu yang paling mahal.

Kalau kamu mau, tim Peha bisa bantu audit cepat: apakah kamu lebih cocok fokus ke TikTok Shop vs Shopee, atau jalan dua channel dengan SOP yang waras. Tinggal klik: konsultasi pemilihan channel. Kamu bisa minta rekomendasi paket layanan marketplace dan dukungan live yang sesuai kapasitas tim.

Yang kemungkinan terjadi berikutnya di 2026 juga cukup jelas arahnya. Video commerce masih terus naik, platform makin agresif mengikat creator dan affiliate, sementara regulasi dan pengawasan persaingan di Indonesia tetap jadi faktor yang harus dipantau. Laju perubahan ini cepat. Seller yang menang biasanya bukan yang paling banyak coba, tapi yang paling cepat merapikan sistem.

Comments

Loading…

TikTok Shop vs Shopee: Pilih Channel Kamu | PEHA Agency